| 2 |
Suryantono_Desa Buniayu_Banten |
Pengembangan BUMDes melalui platform digital dengan memanfaatkan website dan media sosial seringkali terhambat oleh kualitas domain dan hosting dari pemerintah pusat. Bagaimana solusi untuk pengembangan website berbayar sementara SDM di desa masih rendah? |
Solusinya adalah memanfaatkan model 'Desa Pintar' yang dibangun berbasis TIK di Desa Ponggok. SDM dapat dilatih melalui literasi digital berbasis komunitas dan kolaborasi Pokdarwis, PKK, dan perangkat desa untuk mengelola website dan media sosial secara kolektif |
| 3 |
Budi Wulandari_Desa Krembangan_Direktur BUMDes |
Sebagai BUMDes yang juga bergerak di sektor pariwisata air, bagaimana cara awal memunculkan potensi tersebut? Karena sejauh ini potensi belum ditangkap oleh desa maupun masyarakat, dan dampaknya pun masih belum dirasakan. |
Dimulai dari pemetaan potensi spasial seperti yang dilakukan Ponggok terhadap Umbul Sigedang, Besuki, dan Kajen. Dilanjutkan dengan penyusunan Masterplan berbasis konservasi, edukasi, dan ekonomi lokal. Pelibatan masyarakat dan lembaga lokal sangat penting. |
| 4 |
Desa Yehembang Kangin_BUMDes Abdi Rahayu BO Negara |
Bagaimana membangun produk unggulan desa yang bisa memberi umpan balik, edukasi pelanggan, serta membangun loyalitas? Dan bagaimana mewujudkan visi melalui program strategis agar bisa dilaksanakan bersama masyarakat? |
Produk unggulan desa dibangun melalui pendekatan pemberdayaan dan pemetaan aset (pentagonal asset). Untuk loyalitas pelanggan, kolaborasi dengan Pokdarwis, UKM RW, dan digitalisasi layanan desa seperti sistem bundling produk UKM dengan tiket wisata bisa jadi strategi efektif |
| 5 |
Agus Syafrudin_Desa Rambah Utama_Direktur BUMDes |
Bagaimana cara membangun SDM untuk mengembangkan potensi desa? |
Peningkatan kapasitas dilakukan melalui program Green Literacy Camp, beasiswa 1 rumah 1 sarjana, dan pelatihan manajemen BUMDes. Desa Ponggok juga mendorong PKK dan Pokdarwis menjadi pengelola kegiatan berbasis komunitas. |
| 6 |
Intan Irawan |
Apakah ada peraturan khusus di desa agar seluruh masyarakat bisa kompak menjalankan bisnis BUMDes? |
Kekompakan dibangun lewat Musyawarah Desa, partisipasi dalam RPJMDes, dan kolaborasi antar-lembaga seperti BUMDes, Pemdes, Pokdarwis, dan UKM lokal. Sistem One Village One Plan adalah salah satu pendekatan perencanaan terpadu untuk itu. |
| 7 |
Eny Susilawati_Ketua BUMDes Agrosentosa |
Untuk perencanaan usaha wisata di kampung Yaba Maru, apakah perlu tenaga ahli dari dinas, atau cukup dari masyarakat lokal seperti di Ponggok? |
Model Ponggok menunjukkan bahwa desa bisa memulai sendiri dengan SDM lokal, lalu memperkuatnya lewat kolaborasi strategis A-B-C-G-F-M (Akademisi, Bisnis, Komunitas, Pemerintah, Media, dll). |
| 8 |
Irpan_Desa Ciputri_Ketua BUMDes |
Izin bertanya Pak Kades, untuk mencapai posisi sekarang ini, berapa tahun perjuangan Desa Ponggok? |
BUMDes Tirta Mandiri didirikan 2009. Pendapatan tumbuh dari 30 juta (2010) menjadi 14 M (2017). Proses ini memakan waktu sekitar 7–8 tahun dengan tahapan persiapan, perencanaan, pelaksanaan, hingga keberlanjutan |
| 9 |
Iman R_Desa Margamukti_Perangkat Desa |
Bagaimana jika desa tidak memiliki SDA unggul? Apakah tetap bisa menjadi desa wisata? |
Bisa. Ponggok menggunakan pendekatan spasial dan kultural. Desa yang tak punya SDA besar bisa kembangkan sektor jasa, edukasi, budaya lokal, atau teknologi informasi |
| 10 |
Iman R_Desa Margamukti_Perangkat Desa |
Apa orientasi terbaik bagi desa yang minim SDA namun berusaha memaksimalkan SDM dan lembaga yang ada? |
Orientasinya adalah pembangunan SDM, kolaborasi antar-lembaga, dan fokus pada sektor digital, jasa, atau edukasi. Desa bisa mengembangkan 'Green Library', kampung edukasi, serta program kemitraan strategis dengan akademisi dan lembaga luar desa. |